DO NOT MISS
Showing posts with label Tips Pendakian. Show all posts
Showing posts with label Tips Pendakian. Show all posts

9/03/2014

3 Tindakan Pendaki Gunung yang Merusak Alam

Tidak bisa dipungkiri, sejak meledaknya film 5 Cm, kegiatan mendaki gunung telah menjadi tren dan gaya hidup bagi banyak orang. Tidak peduli latar belakang, tua, muda, pria, wanita, anak-anak, orang dewasa, kuat ataupun lemah. Mendaki gunung seolah-olah telah menjadi patokan dari tingkat ke”keren”an seseorang. Akan tetapi banyak orang yang tidak sadar telah melakukan beberapa tindakan yang merusak alam. Ada banyak pendaki yang melakukan hal-hal tidak terpuji yang dilakukan tanpa merasa berdosa yang merusak alam. Akan tetapi pada postingan ini hanya dibahas 3
tindakan yang merusak alam tersebut. Adapun beberapa tindakan yang merusak alam itu adalah sebagai berikut:

1.    Memetik edelweis


gambar ambil dari internet

Siapa coba yang tidak tertarik dengan bunga yang bernama edelweis. Bunga yang hanya bisa tumbuh di daerah diatas ketinggian 2000 mdpl ini menjadi incaran para pendaki labil yang sok menjadi “pejuang cinta”. Predikatnya sebagai bunga abadi menyebabkan bunga ini banyak diambil dan dijadikan “oleh-oleh” bagi para pendaki kepada pacar/gebetannya sebagai bukti keabadian cintanya. Bahkan pernah saya melihat sebuah surat kabar yang menulis tentang betapa romantisnya perjuangan yang dilakukan oleh seseorang tersebut kepada pacarnya. Bagaimana ia berjuang mendaki gunung hanya untuk mendapatkan edelweis. Padahal kita semua tahu bahwa seharusnya edelweis menjadi flora yang langka karena wilayah tumbuhnya tersebut.  Coba bayangkan seandainya semua pendaki menjadi “pejuang cinta” ?? mungkin dalam waktu satu bulan semua edelweis di Indonesia telah punah.

2.    Melakukan vandalisme

niat yang baik dengan cara yang salah             sumber : internet 


Entah sejak kapan mencorat-coret di batu atau pohon menjadi hal yang populer. Apabila hal ini terjadi sebelum kertas ditemukan, mungkin saya akan sedikit mengerti. Tapi, hey sekarang sudah moderen bung. Tidak sedikit pendaki yang membawa perbekalan berupa spidol sebagai bahan pelampiasan kenikmatannya mendaki gunung. Apa coba gunanya menulis nama dibatu??sebagai kenang-kenangan?? Sebagai batu nisan?? Yang ada juga nama itu jadi tempat untuk diinjak-injak. Baru-baru ini pada Agustus 2014 ditemukan jejak-jejak vandalisme dari oknum pendaki Indonesia yang melakukan pendakian di Gunung Fuji, Jepang. Sebuah tindakan yang sangat memalukan dan mencoreng nama baik pendaki Indonesia.

3.    Membuang sampah sembarangan

sumber: Internet

Yah, inilah mungkin Indonesia. Tidak di gunung, tidak di kota, sampah selalu dibiarkan berserakan dimana-mana. Banyak orang yang terkesan sangat cuek dan enggan membawa sampahnya turun gunung karena tidak ingin repot. Salah satu prinsip mendaki saya adalah pergi sama-sama, pulangnya juga sama-sama, termasuk bersama sampahnya. Saking malasnya orang membuang sampah pada tempatnya, saya pernah melihat pendaki yang berbendera komunitas pecinta alam yang membakar sampah kemudian menimbunnya ditanah. Saya yakin mereka tahu bahwa butuh waktu puluhan tahun bagi bakteri untuk mengurai sampah-sampah tersebut, apalagi jika dibakar setengah-setengah.  Jika tidak ingin meninggalkan sampah, jangan bawa perbekalan yang berpotensi menjadi sampah atau sekalian saja tidak perlu naik gunung.

Itulah 3 hal yang ingin saya bagi pada postingan kali ini. Semoga tindakan-tindakan itu semakin bisa diminimalisir oleh pemerintah, dan semoga masyarakat Indonesia semakin sadar akan bahaya dari tindakan-tindakannya tersebut.
Saya juga yakin bahwa hal-hal seperti ini tidak dilakukan oleh semua pendaki, melainkan hanya sebagian dari mereka yang belum tercerahkan, karena diluar sana masih banyak pendaki yang sadar dan bahkan rela untuk membawa turun sampah-sampah milik orang lain.

Akhir kata SELAMATKAN ALAM INDONESIA.

Sumber : http://everythingaboutvanrush88.blogspot.com/2014/09/3-tindakan-pendaki-gunung-yang-merusak.html

7/21/2014

12 Skill Bertahan Hidup Di Alam Liar


Petualang dan penulis buku asal Amerika, Creek Stewart, terkenal dengan kalimatnya yang bilang bahwa bencana itu hanya masalah waktu. “Bukan apakah kita akan tertimpa bencana, tapi kapankah.” katanya dalam bukunya yang berjudul Build the Perfect Bug-Out Bag: Your 72- Hour Disaster Survival Kit.

Kamu nggak mungkin selamanya diam di rumah dan baru mau keluar kalau tempat yang kamu tuju ada di Foursquare. Sekali waktu pastilah kamu tergoda untuk bertualang ke pulau-pulau terpencil di seluruh penjuru Nusantara. Coba bayangkan segalanya tak berjalan sesuai rencana. Dirimu terdampar di pulau yang gak ada di peta. Dengan kondisi fisik dan peralatan yang terbatas, bisa gak kamu bertahan hidup? Gak usah muluk-muluk deh, bisa gak kamu melewatkan satu malam di alam liar?

Merasa tertantang? Baca dulu panduan bertahan hidup di bawah ini, yang udah Ane sarikan dari tulisan Creek Stewart:

1. Menemukan Lokasi Bermalam Yang Aman


Kamu mesti menemukan tempat yang kering dan tidak terletak lebih rendah dari permukaan tanah di sekitarnya. Hindari lembah dan area yang bisa dialiri air karena banjir bisa datang kapan saja. Pilih tempat yang jauh dari sarang serangga atau pohon-pohon lapuk. Kamu gak mau ditimpuk kayu saat tidur, ‘kan?

2. Mendirikan Shelter Darurat


Ingat ya, ini sekedar tempat berlindung. Jadi jangan harap,kamu akan menemukan kenyamanan ala di tenda. Hipotermia adalah pembunuh utama jika kamu terdampar di daerah bercuaca dingin seperti gunung. Supaya selamat, kamu butuh tempat berlindung yang terisolasi agar suhu badanmu tetap hangat.


Temukan beberapa cabang pohon yang cukup kuat untuk disusun sebagai tempat berlindung. Gunakan pohon yang masih berdiri sebagai tumpuan. Lapisi shelter kamu dengan daun atau ranting. Jangan lupa, lapisi juga lantainya dengan daun yang lebih lebar. Itu untuk mencegah panas tubuhmu diserap oleh tanah.

3. Menyalakan Api


Kamu dianjurkan menyalakan api menggunakan baterai. Baterai jenis apa aja bisa — kamu tinggal bikin arusnya jadi pendek. Hubungkan kutub (+) dan (-) dari baterai dengan kertas timah (dari bungkus rokok atau permen karet). Percikkan api yang akan tercipta ke bundelan yang terbuat dari benda kering dan lembut seperti akar, rumput, atau kain. Jaga apimu supaya tetap menyala. Siapkan kayu bakar.

Jika kamu gak punya baterai, kamu bisa menyalakan api dengan batu dan gesekan kayu.

4. Membesarkan Api


Setelah berhasil menyalakan api di bundelan, kamu butuh kayu dalam beberapa ukuran: sebesar tusuk gigi, cotton bud, dan pensil. Pertama-tama, siapkan balok kayu seukuran lenganmu sebagai alas bundelan. Kemudian, sandarkan kayu sebesar tusuk gigi dengan miring di atas bundelan tersebut — ini akan membentuk sudut yang bisa dilalui oksigen. Tambahkan kayu yang berukuran lebih besar satu per satu. Begitu seterusnya hingga api unggunmu siap.

5. Mencari Air Bersih


Ada dua jenis air di alam liar: air yang bisa kamu minum dan air yang bisa membunuh kamu. Saat kamu ragu air itu bisa diminum atau nggak, pilihan terbaik kamu adalah memasaknya. Jika opsi memasak air gak ada di menu, kamu harus bergantung pada hujan dan embun karena air hujan dan embun gak perlu dimasak. Tampung air ketika hujan. Di pagi hari, usap embun di dedaunan dengan kain lap lalu peras kainnya di wadah penampung.

Akar-akar pohon dan beberapa jenis kaktus seperti sylibum (milk thistles) mengandung air di dalamnya. Kalau kamu sedang di luar negeri dan ada pohon mapel disekitarmu, sayat batangnya karena getah pohon mapel bisa jadi sirup berenergi buatmu.

6. Panen Air Dari Pohon


Seperti manusia, tumbuhan itu juga ‘berkeringat’ sepanjang hari. Proses menguapkan air ini namanya transpirasi. Untuk bisa memanen air bersih dan bisa diminum ini, kamu tinggal membungkus ranting pohon yang berdaun dengan plastik, lalu ikat plastiknya rapat-rapat. Dalam waktu beberapa jam air udah terkumpul di dalam plastik dan siap diminum.

7. Mencari Tumbuhan Yang Bisa Dimakan


Dalam,situasi dimana tujuan utamamu adalah bertahan hidup, gak usah muluk-muluk berniat berburu hewan liar. Jangankan rusa, kelinci aja susah ditangkap. Gantungkan hidupmu pada hewan-hewan kecil kayak ikan, katak, atau kadal. Namun, pilihan paling aman adalah menyantap tumbuhan. Pisang dan nanas sangat mudah ditemukan di hutan Indonesia. Selain itu, kamu juga bisa mengonsumsi rotan, rebung, daun semanggi, dan paku-pakuan. Tambah wawasan kamu soal makanan di alam liar dari buku-buku panduan.

8. Berburu Dengan Tombak


Ketika hasrat karnivoramu udah gak bisa dibendung lagi, buatlah tombak bermata empat yang akan jauh lebih efektif dalam menangkap ikan dan hewan buruan lain daripada tombak bermata tunggal. Caranya, tebas kayu pohon sehingga panjangnya sama dengan tombak pada umumnya dan diameternya kira-kira 2,5 sentimeter. Belah salah satu ujungnya jadi empat bagian, masing-masing sepanjang 25 cm. Sempalkan kayu atau batu kecil agar empat bagian tadi terpisah. Tajamkan ujung-ujungnya. Jadilah tombak bermata empat hasil kerja keras tanganmu.

9. Membaca Kompas Alam


Jika GPS dan kompasmu rusak (atau lupa kamu bawa), dengan mudah kamu bisa menentukan arah timur dan barat dari posisi matahari terbit dan terbenam. Jika kamu menggunakan jam tangan analog, hadapkan jarum jam ke arah matahari. Tarik garis imajiner diantara jarum jam dan angka 12 — itu adalah garis yang menghubungkan utara dan selatan.

10. Membaca Rasi Bintang


Cari paling mudah untuk menentukan arah mata angin setelah matahari terbenam ialah menemukan rasi bintang Beruang Besar. Rasi ini dikenal juga dengan nama Gayung Besar. Istimewanya, ketika rasi bintang lain berputar dan ‘berpindah’ sepanjang malam rasi bintang ini tetap berada di utara.

Ciri-ciri gugusan bintang ini adalah terdiri dari 7 bintang dan berbentuk gayung. Nah, di seberang Gayung Besar terdapat gugusan bintang Gayung Kecil, yang seperti namanya berukuran lebih kecil dan nggak sebenderang Gayung Besar. Di ujung ‘gagang’ Gayung Kecil terdapat Polaris a.k.a. North Star: arah utara yang paling hakiki. Di daerah khatulistiwa seperti Indonesia, North Star bisa ditemui di dekat garis horizon.

11. Membuat Simpul Bowline


Beruntung jika kamu dulu rajin ikut kegiatan pramuka: anak-anak.pramuka simpul ini sebagai simpul bendera. Bagi kamu yang belum tahu, simpul ini berguna banget untuk mengikat dan menahan beban. Semakin berat beban yang ditahannya, semakin kencang simpul itu mengikat.

12. Mengirim Sinyal S.O.S.


Pada suatu waktu, mungkin karena kondisi fisik, satu-satunya harapanmu adalah menunggu pertolongan. Pastikan kamu berada di tempat terbuka seperti padang rumput atau puncak bukit agar kamu mudah dilihat dan dievakuasi. Pilihan pertama membuat sinyal ialah dengan kepulan asap dari api. Harap diingat: ini bukan soal api gede doang, tapi juga gimana caranya asap yang kamu hasilkan bisa mengepul tebal sehingga menarik perhatian pesawat atau kapal yang lewat. Jadi ketika api yang kamu buat udah membara, tumpukkan dedaunan dan rumput yang masih hijau dan lembab di atasnya. Asap akan mengepul tebal. Walaupun hanya bertahan 10-15 detik, itu akan cukup untuk menarik perhatian.

Sinyal dari cermin


Pilihan kedua adalah menggunakan sinyal dari cermin. Bahkan refleksi dari cahaya bulan bisa dilihat dari jarak hampir 160 kilometer, lebih jauh jangkauannya daripada senter. Manfaatkan benda apapun yang bisa memantulkan cahaya seperti spion atau layar ponsel. Kuncinya ialah mengarahkan pantulan cahaya secara tepat, dan ini cukup mudah. Arahkan cermin yang kamu punya ke matahari atau bulan (tidak secara langsung, tapi dimiringkan sedikit) hingga kamu melihat pantulan cahaya di permukaan cermin tersebut. Ketika kamu melihat kapal atau pesawat lewat, bikin salam peace dengan salah satu tangan kamu, dan “letakkan” kapal atau pesawat nan jauh disana itu di antara dua jari damai tadi. Kemudian gerakin pemantul cahaya maju dan mundur dibelakang salam peace kamu.

Beberapa skill di atas membutuhkan latihan dan kekuatan memori otak. Gak ada salahnya kamu pelajari dulu di rumah, lalu ajak seorang teman untuk bertualang ke hutan atau gunung sekaligus kalian latihan. Praktekin semua skill yang kamu tahu. Jangan lupa kasih info ke mana kalian bertualang kepada keluarga, teman, dan petugas setempat, ya.

Sumber : http://bafindonesia.blogspot.com/2014/07/12-skill-bertahan-hidup-di-alam-liar.html

11/15/2013

Jalur Pendakian Semeru Kembali Dibuka

Jalur pendakian Gunung Semeru kembali dibuka setelah sempat ditutup sementara selama sepekan lantaran ada operasi pencarian dua pendaki asal Jakarta yang dilaporkan hilang, Ngalamers. Kini, kedua pendaki yang dilaporkan hilang itu telah ditemukan dan dievakuasi dengan selamat.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Ayu Dewi Utari mengatakan, jalur pendakian sudah dibuka lagi sejak kemarin. "Sudah dibuka sejak kemarin (Rabu, 13/11/2013, red)," kata Ayu, Kamis (14/11/2013).

Ayu menegaskan, jalur pendakian ke Gunung Semeru tetap seperti semula. Hanya diizinkan sampai Kalimati saja dan dilarang mendaki hingga Puncak Mahameru. Karenanya, Ayu berharap para pendaki mau mematuhinya. Sebab di pos perizinan pendakian di Ranu Pane, semua pendaki sudah menandatangani surat pernyataan tidak mendaki hingga puncak, Ngalamers.

Menurut Ayu, pihaknya tak bisa setiap hari mengawasi dan menempatkan petugas di Ranu Kumbolo-Kalimati untuk mengawasi para pendaki. Selain karena keterbatasan personel, medan di Semeru cukup berat dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. "Seharusnya pendaki mematuhi aturan yang disepakati," tegasnya. 

Sumber : http://halomalang.com/news/jalur-pendakian-semeru-kembali-dibuka

10/11/2013

6 Gunung Yang Sulit Ditaklukkan

Untuk anda para pecinta alam khususnya para pendaki gunung, menaklukan gunung yang tinggi adalah sebuah kebanggaan tersendiri. namun ada beberapa gunung yang teramat sulit untuk ditaklukan dengan iklim yang bersalju dengan suhu dibawah Nol derajat celcius track yang terjal menjadi salah satu hambatan untuk menaklukannya. berikut 6 gunung tersebut.

1. Annapurna Mountain
f271f25c114ef9972e0ac96cd609861a_big_13158287911130523684
Gunung Annapurna terletak di Nepal, memiliki tinggi 8000 meter. Termasuk dalam daftar 10 besar gunung tertinggi di dunia, serta termasuk salah satu palin berbahaya karena banyaknya pendaki yang tewas saat berusaha menaklukkan medan Annapurna. Berdasarkan catatan, sejak pertama kali di buka untuk pendakian umum tahun 1950, gunung ini telah menelan korban tewas 53 pendaki. Jika ingin mencoba mendaki Annapura, disarankan carilah informasi sebanyak-banyaknya tentang medan gunung tersebut. Yang terbaik adalah menyusuri Annapurna Sanctuary di Nepal.

2. K2 Mountain
a6b50a61787e5eb315c6a6f921a08a77_k2
K2 Gunung yang terletak di atas Athabasca River Valley of Jasper National Park, 1 km east of Mount Kitchener, Kanada, ini, merupakan gunung tertinggi kedua di dunia dan dikenal dengan medan tersulit di dunia, sehingga hanya pendaki yang berpengalaman saja agaknya yang bisa mendaki gunung ini. Bahkan rute yang dianggap paling mudahpun, memerlukan kerja keras dan tergolong rumit. Batu-batu yang curam, serta harus melintasi tiang-tiang es yang tipis yang bisa roboh sewaktu-waktu tanpa peringatan. Kesukaran medan ini membuat gunung ini menjadi salah satu paling berbahaya di dunia. Agustus tahun lalu menjadi bulan paling kelam, 11 pendaki tewas mengenaskan. Ini kecelakaan tertinggi sejak 1986 di mana 13 pendaki tewas hanya dalam tempo dua pekan.

3. Nanga Parbat Mountain
c55ee3f85d8c95fb314116b366f985ea_nanga_parbat_peak
Nanga Parbat berada di urutan kesembilan gunung tertinggi di dunia terletak di Pakistan. Dalam tingkat kesulitan, medan gunung Nanga Parbat disebut sama beratnya dengan K2. Sulitnya medan pada gunung ini membuat ia mendapat julukan The Man Eater . Bisa jadi ini karena banyaknya pendaki yang tewas di sini.

4. Kanchenjunga Mountain
c97252bb45a4f75eeeff5a6f862662fc_eiger_switzerland
Kangchenjunga, adalah gunung tertinggi ke-3 di dunia setelah Gunung Everest dan Chogori) dengan ketinggian 8.586 meter (28.169 kaki). Gunung ini juga adalah gunung tertinggi ke-2 di Nepal. Kangchenjunga berarti Lima Harta Karun Salju, karena ia terdiri dari 5 puncak, empat diantaranya mencapai lebih dari 8.450 meter. Harta karun itu melambangkan 5 benda milik dewa yaitu emas, perak, permata, biji-bijian dan kitab suci. Tingkat kematian di gunung ini termasuk paling tinggi dibanding yang lain, yakni mencapai 22 persen setiap tahunnya. Meski begitu tetap banyak pendaki yang berminat mencoba.

5. NordWand Mountain
dc3a60579a27e4375eccc37302321b8e_07_2012_andrey2
The Eiger Disebut juga Nordwand, atau wajah utara berada di puncak pegunungan Swis, merupakan tujuan legendaries bagi para pendaki yang gemar bertualang di gunung-gunung berbahaya. Tercatat mulai didaki tahun 1938. Medan berbahaya mengharuskan pendaki memiliki skill tertentu dan harus mengerahkan segala kemampuannya. Beratnya medan membuat gunung itu mendapat julukan Mordwand atau Murder Wall.

6. The Matterhorn Mountain
c8b88d58ba5b700f7fede60fe9f5f413_mueller-03-005
The Matterhorn Gunung ini berbentuk unik, menyerupai terompet yang naik dari lembah sekitarnya. Gunung ini terkenal sebagai salah satu yang memiliki tingkat kematian tinggi. Ada beberapa factor yang menyebabkan, medan yang berat, termasuk longsoran salju atau bebatuan yang bisa datang tibe-tiba.

Sumber : http://cariartikel.blogdetik.com/index.php/2013/10/10/6-gunung-yang-sulit-ditaklukkan/

10/03/2013

Jalur Pendakian Gunung Tambora

Gunung Tambora dapat didaki melalui tiga titik pendakian yang kesemuanya berada di wilayah Kabupten Dompu. Jalur pertama berada di Dusun Pancasila Desa Tambora, jalur ke dua berada di desa Doropeti dan jalur yang ke tiga berada di sabana Doro Ncanga Desa Sorotatanga. Dari tiga jalur pendakian ini, dua jalur adalah jalur pendakian dengan berjalan kaki biasa untuk para pendaki gunung sedangkan jalur yang satunya adalah jalur pendakian dengan menggunakan kendaraan.
  1. Jalur Pancasila
    Di sini adalah jalur resmi yang sering di pakai oleh pendaki gunung umumnya untuk mendaki gunung Tambora, baik itu pendaki lokal atau pendaki dari luar Dompu bahkan pendaki mancanegara. Terdapat tempat registrasi untuk pendaki. Pendakian di mulai pada titik 600 mdpl. Dari tempat registrasi ini pendaki bisa memilih berjalan kaki atau naik ojek sampai batas hutan. Tarif per-ojeknya sebesar Rp 20.000 – Rp 25.000, disarankan untuk naik ojek saja karena jalur di sini cukup panjang dan menguras tenaga serta dapat menghemat waktu pendakian. Sepanjang perjalanan melewati kebun kopi karena wilayah antara tempat registrasi dan batas hutan adalah lahan garapan masyarakat, beberapa kampung kecil yang terdiri dari beberapa rumah juga ada di kebun kopi ini.
    Dari pintu hutan menuju Pos I jalur didominasi oleh trek landai dan sesekali menanjak, sepanjang jalur dipenuhi oleh tumbuhan rambat dan pohon-pohon yang kalau musim hujan bisa menutup jalur. Jalur ini juga dipakai oleh masyarakat sebagai jalur pengairan karena ada pipa air minum. Waktu efektif yang bisa ditempuh untuk sampai ke Pos I adalah 2 jam. Sumur penampungan dari pipa air ada di Pos I, shelter sudah tidak ada di Pos ini, pendaki hanya bisa beristirahat di bawah pepohonan. Sebaiknya ketika sampai segera memeriksa kaki dan bagian tubuh lainnya karena sudah ada pacet.

    Masih dengan vegetasi yang sama, perjalanan dari Pos I ke pos II treknya landai dengan satu t anjakan yang cukup panjang, mendekati Pos II pepohonan sudah sangat rimbun dan. Pos II berada dekat sungai yang airnya sangat jernih dan sejuk, shelter masih ada dan cukup baik di sini pendaki dapat menggunakan air ini untuk minum dan memasak. Sampai di Pos II perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 2 jam.
    Trek menanjak dimulai dari sini, dari Pos II melewati sungai kemudian menanjak menyusuri punggung gunung, hanya sesekali trek landai, perjalanan akan sangat menantang karena pohon-pohon yang rimbun dan besar. Jelang Pos III vegetasi sudah bercampur karena sudah terdapat pohon cemara. Pos III di ketinggian 1300 mdpl ditandai oleh tanah yang lapang dan shelter yang kondisinya sangat baik, dapat menampung 10 – 15 tenda ukuran 4 orang. Mata air berada lebih kurang 150 m barat daya shelter, disinilah tempat untuk beristirahat sebelum melakukan summit attack tengah malam.
    Tanjakan seolah tanpa henti di bawah hutan cemara dan sengatan jelatang adalah tantangan tersindiri dalam perjalanan dari Pos III ke Pos IV, waktu tempuhnya dalah 1,5 jam. Pos IV hanya digunakan untuk rehat sejenak sbelum lanjut ke Pos V karena tidak ada shelter dan mata air di sini.
    Keadaan yang sama terus berlanjut menjelang Pos V, di sini terdapat sungai yang hanya mengalir pada musim hujan. Air masih bisa didapat di sini walau musim kemarau. Tidak terdapat lagi shelter si sini. Pos V berada pada ketinggian 2080 mdpl. Dari Pos IV dapat ditempuh selama 2 jam.
    Pemandangan menakjubkan tersaji mulai dari Pos V, vegetasi cemara sudah jarang berganti rumput dan bunga edelweis. Trek yang terus menanjak dan berpasir. Beberapa punggungan bukit yang cukup menipu ada sepanjang trek ini. Setelah tanjakan yang sangat melelahkan, kaldera yang spektakuler menanti dan bibir kaldera yang sangat luas dan lapang membuat lelah menjadi hilang seketika. Setelah sampai di sini puncak gunung Tambora sudah sangat dekat. Waktu tempuh dari Pos V sekitar 2-3 jam.
  1. Jalur Doro Peti
    Belum ada info yang detail
  2. Jalur Sabana Doro Ncanga
    Bagi penggila olahraga Off road, layak mencoba jalur ini. Di sini terdapat 3 Pos, Pos I berada di pinggir jalan raya, dari Pos I medan sangat mudah serta memanjakan mata karena padang rumput yang luas banyaknya hewan yang mencari makan. Setelah beberapa menit dari Pos I trek menjadi menantang, tanjakan berpasir mulai dihadapi, keadaan begini terus berlanjut sampai Pos II, Pos II berada di seberang sungau kering.
    Dari Pos II sesekali keluar masuk hutan kecil dan jalurnya agak mudah. Setelah beberapa saat tanjakan berpasir kembali menanti, padang rumput yang sangat luas juag terdapat di sini. Pemandangan juga tidak kalah indah. Pos III berada beberapa ratus meter dari hutan cemara. Tidak terdapat mata air di sini tapi ada air rembesan dingin di cerukan tebing, bisa dimanfaatkan untuk minum dan memasak. Di sini juga tempat bermalam sebelum summit attack. Mendaki lewat sini tidak bisa sampai ke puncak Tambora karena jarak Pos III yang jauh serta medan yang berat. Dari Pos III pendakian dilanjutkan berjalan kaki sampai ke bibir kaldera, dibutuhkan waktu 2-3 jam perjalanan untuk sampai.
Tutorial disusun seingatnya oleh Teguh Ardiansyah.

Sumber : http://www.jelajahsumbawa.com/2013/10/jalur-pendakian-gunung-tambora.html

9/30/2013

Mengejar "Goraiko" di Puncak Fuji

Malam menjelang, membawa angin dingin berembus kencang. Bulan separuh muncul dari balik awan tebal. Udara dingin dan hujan yang bisa tiba-tiba turun tidak meredupkan hasrat ramai pendaki yang bersiap-siap di Pos V Kawaguchi-ko, di lereng Gunung Fuji, Jepang.

Jendela pendakian ke Gunung Fuji, gunung tertinggi di Jepang dengan ketinggian 3.776 meter, yang hanya dibuka sepanjang musim panas pada Juli-Agustus, tinggal sehari lagi. Banyak pendaki yang enggan melewatkannya.

”Sudah hampir tiga tahun di Jepang saya belum pernah naik Fuji. Baiklah, saya ikut,” kata Anzilni Fathia, kawan lama yang tengah menempuh pendidikan doktoral di Jepang, menyambut ajakan saya.

Selama Juli-Agustus, salju yang biasanya menyelimuti puncak Fuji telah menghilang. Cuaca dianggap lebih ramah dan suhu lebih hangat walaupun terkadang turun hingga mendekati titik beku. Setiap tahun, ratusan ribu orang mendaki Fuji selama dua bulan ini. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Jepang, pada musim pendakian tahun 2012 pendaki yang ke Fuji mencapai 319.000 orang. Kalau dirata-ratakan, dalam sehari terdapat 5.316 orang yang mendaki gunung ini selama dua bulan itu.

Pos Kawaguchi-ko, di ketinggian 2.300 meter, termasuk paling populer bagi para pendaki karena bisa diakses dengan bus dari Stasiun Shinjuku di Tokyo dengan tarif sekali jalan 2.600 yen atau sekitar Rp 260.000. Selain itu, di sepanjang rute pendakian Kawaguchi ke puncak yang dikenal sebagai Jalur Yoshida ter- dapat banyak warung yang menyediakan makanan dan minuman, ruang untuk beristirahat, hingga tabung oksigen.

Selain melalui Kawaguchi, sebenarnya terdapat tiga gerbang pendakian lainnya, yaitu Subashiri, Fujinomiya, dan Gotemba. Kami memilih bus yang berangkat pukul 16.50 dari Shinjuku dan tiba di Pos V Kawaguchi pukul 19.50.

Masih cukup waktu. Pendakian dari Pos V Kawaguchi ke Pos X atau puncak Fuji diperkirakan enam sampai delapan jam. Setelah mengisi perut dengan mi udon panas, lalu memenuhi tas dengan air minum dan dua bungkus onigiri (sejenis nasi kepal), kami pun bersiap mengejar matahari pagi di puncak Gunung Fuji.

Hampir pukul 21.00. Para pendaki satu per satu menghilang di jalur pendakian yang gelap. Kami mengikuti arah mereka menghilang. Sekitar 15 menit berjalan, jalur pendakian dari Pos V masih mendatar, bahkan kemudian menurun.

Sembari menunggu pendaki lain, kami mengabadikan pemandangan berupa kerlip lampu permukiman di kaki Fuji, yang menyaru ribuan kunang-kunang.

Seorang lelaki yang datang dari arah Pos V muncul dari kegelapan. Kami mencegatnya dan bertanya. ”Sepertinya hanya ini,” katanya ramah. ”Saya juga baru sekali naik Fuji.”

Lelaki itu bercakap sambil terus melangkah. ”Setelah umur 50 tahun, akhirnya bisa juga saya ke Fuji. Ini cita-cita saya sebelum mati,” katanya.

Sosoknya terlindungi gelap malam. Saya tak ingin mengganggunya dengan berbagai pertanyaan yang bersifat personal. Kami memilih menikmati percakapan tanpa saling mengenalkan diri. ”Paling tidak, sekali dalam hidup orang Jepang harus naik ke puncak Fuji,” katanya sebelum menghilang dalam gelap.

Gunung istimewa

Bagi orang Jepang, Fuji memang istimewa. Ratusan tahun, gunung tertinggi di negeri ini telah menjadi sumber inspirasi. Banyak puisi, tulisan, hingga lukisan yang terinspirasi dari pesona Fuji. Gunung ini juga menjadi salah satu pusat orientasi spiritual pemeluk Shinto, agama tradisional di Jepang. Sejumlah kuil Shinto didirikan di Gunung Fuji, mengingatkan pada banyaknya candi dan tempat pemujaan yang dibangun di gunung-gunung api di Indonesia.

Fuji sebenarnya gunung api aktif yang terletak di persimpangan tumbukan tiga lempeng tektonik aktif: Lempeng Amurian (Eurasia), Lempeng Okhotsk (Amerika), dan Lempeng Filipina. Saat terakhir meletus pada 1707, abu Fuji jatuh hingga Tokyo yang berjarak sekitar 100 kilometer.

Pada Juni 2013, Gunung Fuji ditetapkan sebagai salah satu dari delapan warisan dunia oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Pendakian ke Fuji tahun ini pun tambah ramai. Tak hanya remaja, tetapi orangtua hingga anak-anak pun banyak ditemui di jalur pendakian Fuji.

Berbeda dengan gunung-gunung Indonesia yang jalurnya kebanyakan dibiarkan alami dan kerap menyesatkan, jalur pendakian Fuji dikemas nyaman untuk wisatawan. Beberapa ruas telah dibuat tangga batu dan jalinan tali memagari jurang.

Pendaki yang kelelahan bisa menginap dan makan di penginapan yang banyak ditemui hampir di setiap pemberhentian. Toilet pun tersedia hingga di puncak dengan tarif 200 yen atau Rp 20.000 per orang. Tak hanya itu, di tiap pos, pendaki bisa mendapatkan oleh-oleh khas Fuji, yaitu stempel yang diterakan pada tongkat kayu untuk menandai kita telah sampai ke sana. Tongkat ini bisa dibeli di Pos V seharga 1.200 yen dan untuk sekali stempel 200 yen.

Angin dingin

Jalur pendakian ke Gunung Fuji memang seperti pasar malam saja. Pendaki mengular, beriringan di sepanjang jalur pendakian yang mulai terjal sedari Pos VII. Beberapa kali kami harus sabar mengantre.

Pukul 04.30 pagi. Puncak Fuji kian dekat, tetapi jalanan semakin menanjak dan padat. Angin dingin bertiup kian kencang, menerbangkan debu, bahkan kerikil yang terasa perih saat menyambar wajah.

Beberapa pendaki yang kelelahan memilih beristirahat di lahan datar sekitar gerbang torii—gerbang kayu, biasanya dicat merah yang menghubungkan ke tempat sakral—tak jauh dari puncak. Mereka meringkuk di balik jaket tebal dan saling berimpitan, sambil menunggu matahari terbit.

Pukul 05.00, kabut tebal tiba-tiba datang. Suhu 4 derajat celsius dan angin deras menyerbu. Namun, para pendaki yang telah menanti-nanti di puncak tak beranjak. ”Matahari terbit itu momen luar biasa bagi orang Jepang. Ingat negeri kami sering disebut ’Negeri Matahari Terbit’,” kata Masahide Sasaki, pendaki solo dari Tokyo. ”Menunggu terbitnya matahari di puncak Fuji lebih istimewa lagi.”

Saking istimewanya matahari terbit dari Fuji, orang Jepang memiliki istilah sendiri untuk menyebutnya, yaitu goraiko.

Akhirnya warna lembayung melukisi langit di ufuk timur. Dan sekitar pukul 05.20, matahari yang dinanti-nanti itu pun nongol. Sinar surya memunculkan deretan danau di kaki Fuji yang semula raib. Permukaan danau memantulkan warna perak. Hanya beberapa detik, matahari kembali menghilang. Kemudian muncul lagi beberapa detik dan kembali hilang. Begitu matahari terlihat nongol, orang-orang pun bersorak gembira.

”Goraiko....goraiko,” seru Sasaki. Dia lalu menawarkan diri untuk memotret saya dengan latar belakang goraiko. Sebagai imbalannya, dia pun minta saya memotretnya dengan latar belakang yang sama. ”Maaf, saya tidak bawa kamera. Bolehkah Anda foto saya lalu dikirim ke Facebook atau ke e-mail saya?” katanya sambil berkali-kali berucap arigatou dan membungkukkan badan.

Ah, satu jepretan foto pun bisa menjalin persahabatan baru. Fuji memang penuh inspirasi, tetapi semuanya akhirnya tergantung bagaimana cara kita memaknainya. Angin Fuji yang menderu dan memedihkan kulit pun bisa jadi buah tangan berharga, seperti ditulis penyair haiko dari zaman Edo, Matsu Basho (1644-1694); The wind from Mt Fuji//I put it on the fan//Here, the souvenir from Edo... (Ahmad Arif)

Sumber: http://travel.kompas.com/read/2013/09/30/1110504/Mengejar.Goraiko.di.Puncak.Fuji 

8/09/2013

Jalur Pendakian Gunung Merapi

Gunung Merapi (2.968 m.dpl) terletak di 2 provinsi, di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Gunung merapi terletak berdampingan dengan Gunung Merbabu. Gunung merapi adalah salah satu gunung api yang mempunyai daya rusak yang tinggi dan paling aktif diantara sekian banyak gunung api yang terletak di Indonesia serta merupakan salah satu gunung terganas di dunia. Nama puncaknya adalah puncak Garuda, yang merupakan bongkahan batu besar dengan bentuk mirip burung garuda. Salah satu ciri khas dari Gunung Merapi adalah pada saat terjadi letusan menghasilkan awan panas (glowing avalanches), yang oleh penduduk setempat disebut Wedus Gembel (sejenis kambing Jawa), awan panas ini mempunyai suhu sekitar 1.000 °C yang turun berbentuk bulatan keriting mirip kambing.

Ciri khas lain dari Gunung Merapi ini adalah pembentukan kubah lava yang bisa mencapai ratusan meter kubik perhari, yang terbesar jumlahnya sepanjang sejarah terjadinya letusan gunung berapi didunia. Letusan besar terakhir terjadi pada akhir tahun 1993 yang menyebabkan puluhan penduduk disekitar lereng meninggal karena diterjang lahar panas dan awan Panas.

Walau begitu, gunung ini hampir tidak pernah sepi dari pendaki, bahkan pada hari minggu banyak sekali pendaki yang datang. Untuk mencapai puncak Gunung Merapi kita bisa melewati dua jalur utama, lewat Kinaharjo/Kaliurang dan lewat Selo/Boyolali, tetapi Jalur pendakian Kaliurang di tutup sementara sejak Bulan Nopember 1995.

Jalur Selo
Untuk mencapai Desa Selo, kita bisa naik bus atau kereta dari daerah anda menuju Jogja atau Solo. Anda yang berdomisili di Jakarta bisa naik kereta dari stasiun senen, tanah abang, atau gambir. Untuk kereta, ada kereta progo dengan tarif 35.000 rupiah menuju stasiun lempuyangan, Jogja. atau kereta senja utama dengan tarif 120.000 sampai Solo. Atau jika memilih menggunakan bus, kita bisa naik bus jurusan Solo dengan tarif 75.000- 120.000, turun di terminal boyolali. lalu naik bus mini jurusan selo di depan terminal, dengan tarif sekitar 3000 rupiah (tahun 2009) sampai pasar cepogo. dari pasar cepogo dilanjutkan lagi dengan bus mini menuju desa selo dengan tarif sama.

Jika dari Kota Yogyakarta kita naik bus menuju ke Magelang, turun di Desa Blabak, dan dilanjutkan naik minibus atau kendaraan barang ke jurusan Selo. Sebaiknya diperhatikan, diatas pukul 17.00 WIB kendaraan dari Blabak ke Selo mulai jarang beroperasi. Sebenarnya Selo lebih mudah dicapai dari arah Solo-Boyolali, karena dari Boyolali, ada angkutan yang langsung menuju Selo.

Desa Selo (1.560 m.dpl) saat ini menjadi gerbang pendakian utama. Desa Selo terletak dipelana Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Desa ini mempunyai panorama alam yang indah karena letaknya yang strategis. Penduduk desa ini sebagian besar bertani sayuran dan tembakau. Di desa ini juga terdapat tempat wisata gua yang mempunyai tempat pertapaan, terletak 300 meter dari Pos Polisi Selo.

Setelah tiba di gerbang desa selo, kita meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Basecamp pendaki di dusun Plalangan dengan waktu tempuh sekitar 15 menit. jalan yang kita lalui berupa jalan aspal yang cukup menanjak. lumayan, sebagai pamanasan sebelum pendakian yang sebenarnya. Ditengah perjalanan anda akan melewati sebuah pos kecil mirip pos hansip, dimana anda bisa melaporkan pendakian anda dengan biaya retribusi pendakian gunung merapi sebesar 2500 rupiah. Sepanjang perjalanan kita akan melewati rumah2 dan ladang penduduk. Saya selalu terkesan setiap kali melewati perkampungan di kaki gunung, terutama di jawa tengah. Saya selalu menyebutnya keramahan Khas Jawa tengah.

Basecamp atau Pondok pendaki, adalah sebuah rumah dimana terdapat ruang aula yang cukup luas untuk menampung pendaki yang ingin beristirahat, baik sebelum atau setelah melakukan pendakian. Tempat ini dapat menampung sekitar 30 0rang pendaki dan bisa dikenali dengan sebuah plang bertuliskan BASECAMP PENDAKIAN GUNUNG MERAPI dan sebuah toko suvenir didepannya. 

Menurut keterangan penghuninya, ini adalah basecamp baru, pindahan dari basecamp lama yang berada dibawahnya. ditempat ini anda bisa beristirahat sejenak dan packing ulang perlengkapan pendakian. Selain itu, anda juga bisa membeli suvenir berupa pernak - pernik gunung merapi, seperti Stiker, Gantungan Kunci, Pin, kaos bergambar gunung merapi, dan sebagainya dengan harga 3000 - 50.000 rupiah. Anda bisa mempersiapkan perbekalan air dari sini, karena sepanjang pendakian, anda tidak akan menemukan mata air.

Dari basecamp, perjalanan dilanjutkan menuju Joglo dengan jalur masih berupa jalan aspal yang menanjak dengan waktu tempuh kira-kira 10 menit. Joglo adalah sebuah bangunan berbentuk rumah joglo yang biasa digunakan pengunjung untuk menikmati pemandangan sekitar. Anda bisa memandangi eloknya gunung merbabu dengan jelas dari tempat ini.

Tempat ini sudah terlihat dari jalan raya karena terdapat sebuah baliho atau tulisan besar yang bertuliskan NEW SELO. sekilas tampak seperti lambang Hollywood di Amerika sana. saya sempat tersenyum saat melihat baliho tersebut, kreatifitas yang tinggi dari pembuatnya. Disini juga terdapat tempat parkir yang dapat menampung hingga 6 buah mobil, dan beberapa buah warung yang menjual makanan dan minuman ringan. warung2 ini hanya buka sampai sore hari, terkecuali pada saat musim pendakian.
Dari Joglo, anda bisa melanjutkan perjalanan jalan setapak kecil yang berada disamping tempat ini menuju pos Tugu I. jalur yang akan anda lewati masih didominasi ladang penduduk dengan medan batuan kecil dan tanah yang pada musim kemarau akan sangat berdebu. Jika anda melakukan pendakian pada musim kemarau, sebaiknya anda menggunakan masker dan baju berlengan panjang. Banyak terdapat percabangan jalur di sepanjang trek pendakian, tapi berujung pada jalur yang sama. terserah anda memilih mana jalur yang kira2 nyaman untuk dilewati. Di Pos Tugu I ini terdapat sebuah tugu yang letaknya berada di sebuah punggungan, tingginya sekitar 1,5 meter.

Dari Pos I Perjalanan dilanjutkan menuju Pos Tugu II, dengan jalur yang curam dan penuh bebatuan besar. perjalanan menuju pos ini memerlukan waktu sekitar 1,5 - 2 jam. Di pos ini juga terdapat sebuah tugu, sama seperti di pos sebelumnya. dari sini anda tinggal memerlukan waktu sekitar 1 jam untuk menuju pasar bubrah. medan pendakian masih serupa dengan medan pendakian sebelumnya. 

Menjelang pasar bubrah anda akan melewati sebuah beberapa memoriam yang berada pada sebuah dataran yang menjadi puncak sebuah punggungan. dari sini anda tinggal turun menuju pasar bubrah.Pasar bubrah berada pada sebuah lembahan yang dipenuhi batu - batu besar yang berserakan. dari sini terlihat 2 buah puncak. disebelah kiri anda adalah jalur menuju kawah woro.

Dan di hadapan anda adalah jalur yang menuju ke puncak Garuda. dari pasar bubrah menuju puncak garuda memerlukan waktu sekitar 1 jam dengan jalur yang sangat curam. medan yang anda hadapi adalah batuan vulkanis yang mudah longsor. sebaiknya anda berhati - hati karena angin kencang bisa datang setiap waktu. begitu juga dengan bahaya longsoran batu yang mungkin terinjak oleh pendaki diatas anda.Pendakian dari selo menuju ke puncak gunung merapi memakan waktu 5-6 jam dan turunnya membutuhkan waktu 3 - 4 jam per jalanan.

Pemandangan di Puncak Garuda sangat menakjubkan sekaligus mengerikan, gemuruh kawah dan asapnya serta tebing batu di sekitar kawah nampak menyeramkan. Tetapi dari puncak ini kita bisa saksikan kota-kota di kaki-kaki gunung seperti Yogyakarta, Boyolali dan Magelang, pesisir Lautan Hindia di kaki langit. Kalau beruntung, kita bisa menyaksikan matahari terbit yang kemerahan diufuk timur yang merupakan panorama alam yang sungguh menakjubkan.

Untuk pendakian 2 (dua) gunung sekaligus (Climbing party), biasanya jalur yang dipakai adalah Kopeng - Puncak Merbabu - Selo - Puncak Merapi dan kembali ke Selo.


Bila terjadi keadaan darurat leat Jalur Selo, kita bisa menghubungi petugas Vulkanologi dan Polsek Selo, juga perangkat desa setempat dan diJalur Kaliurang kita bisa menghubungi pos Vulkanologi di Plawangan atau Pak Christian Awuy di Vogel Hostel yang merupakan Pos SAR Gunung Merapi, perlu dihubungi juga MAPAGAMA dan PALAPSI di kampus UGM, Bulaksumur, Yogyakarta.

Untuk Info contact akan saya update secepatnya, termasuk nomor kontak beberapa pemandu jika anda ingin menggunakan jasa guide yang bisa mengantar anda mencapai puncak gunung merapi.
Selamat Mendaki, dan tetap ingat 3 perkara.
Leave nothing but trace..
Kill nothing but time..
take nothing but picture..
Salam Pendaki..

Sumber : http://mountinblack.blogspot.com/2009/06/jalur-pendakian-gunung-merapi.html

7/27/2013

Tips Mendaki Gunung Lawu

Gunung Lawu (3.265 m) berdiri kokoh diperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, banyak menyimpan sejuta misteri dan legenda. Dalam legenda Gunung Lawu dipercayai sebagai tempat bertapanya Raden Brawijaya atau dikenal dengan Sunan Lawu setelah mengundurkan diri dari kerajaan Majapahit, dan beliau dipercaya sebagai penguasa seluruh makhluk yang ada di Gunung Lawu.Gunung Lawu juga mempunyai kawah yang namanya sangat terkenal yakni Kawah Condrodimuko, yang dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat menggodok tokoh pewayangan yaitu Raden Gatutkaca, salah satu dari Pandawa Lima. Di gunung ini juga banyak tempat-tempat keramat antara lain Sendang Drajat, Argo Dalem, Argo Dumilah, Pasar Dieng, Batu Tugu "Punden Berundak", Lumbung Selayur, Telaga Kuning dan masih banyak lagi. Gunung ini juga ditumbuhi bunga Edelweis berwarna merah muda, kuning dan putih.


gunung lawuGunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.


Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas. Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.

Desa Cemoro Sewu maupun dukuh Cemoro kandang yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer merupakan gerbang pendakian ke puncak Lawu atau lebih dikenal dengan nama Argo Dumilah, letaknya berada tidak jauh dari kota dan dilintasi oleh jalan raya tertinggi di pulau Jawa yaitu sekitar 1.878 meter dari permukaan air laut. Karena letaknya yang mudah dijangkau, Gunung Lawu ini banyak dikunjungi pendaki pada Minggu dan hari-hari libur. Bahkan pada bulan Suro (Tahun Baru menurut penanggalan Jawa), kita akan menemui bahwa mereka yang mendaki bukan saja untuk ke puncak gunung Lawu, tetapi juga banyak diantaranya adalah peziarah, pertapa dan berbagai tujuan lainnya.

Kedua daerah gerbang pendakian tersebut merupakan daerah berbentuk saddle antara daerah tujuan wisata Sarangan yang terkenal dengan danaunya dan Tawangmangu dengan air terjunnya. Kedua jalur Selatan ini adalah yang paling banyak dilalui karena jalurnya mudah dan pemandangannya sangat indah.

Untuk mencapai daerah ini. Dari arah Surabaya menuju Madiun diteruskan ke Magetan dengan bus, kemudian naik colt menujuSarangan (1.286 m.dpl), dari sini kita naik colt jurusan Tawangmangu turun di Cemoro Sewu atau Cemoro Kandang. Kalau dari arah Solo, kita naik bus menuju Tawangmangu (1.000 m.dpl), lalu naik colt jurusan Sarangan berhenti di Cemoro Kandang atau Cemoro Sewu. Angkutan umum/colt dari Tawangmangu ke Sarangan atau arah sebaliknya agak sulit ditemui mulai pukul 16.00 wib.

Segala fasilitas umum antara lain hotel, wartel yang paling dekat adalah di daerah wisata Sarangan terletak 5 kilometer dari Cemoro Sewu atau di Tawangmangu yang juga merupakan tempat wisata. Walau demikian, kita dapat menginap dirumah-rumah penduduk. Kita juga bisa memenuhi kebutuhan logistik tambahan untuk pendakian di warung-warung yang ada di desa gerbang pendakian ini.

Gerbang Jawa Timur ,lewat Desa Cemoro Sewu

Desa Cemoro Sewu (1.800 m dpl) kecamatan Plaosan Kabupaten Magetan merupakan gerbang pendakian dari jalur Jawa Timur adalah daerah yang sangat subur. Daerah yang dihuni 20 keluarga dengan mata pencaharian utama adalah bertani ini tampak hijau, bersih sehingga menyejukkan mata yang melihatnya.

Penduduknya sangat rukun, suka gotong-royong, ramah terhadap para pendatang dan sangat peduli terhadap kebersihan lingkunganya, ini terbukti dengan didapatnya tropi Jawa Timur tahun 1991 dan Kalpataru untuk katagori Pengabdi Lingkungan tahun 1992 oleh Bapak Sardi Kamituwo desa Cemoro Sewu.

Jalur yang dimulai dari Cemoro Sewu (1.800 m.dpl) ini adalah yang paling sering digunakan untuk pendakian, panjangnya 6.5 km, berupa jalan makadam mulai desa sampai mendekati puncak. Di desa Cemoro Sewu ini kita mempersiapkan air untuk perjalanan naik dan turun. Kita akan melewati hutan pinus dan akasia di sisi kiri dan kanan sampai pada ketinggian lk 3.000 m dpl. Dalam pendakian ini kita akan melewati 4 buah pos pada ketinggian 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m dan sampai di pos IV dengan ketinggian 2.800 m dpl dengan waktu 4 - 5 jam. Setelah pos IV ini pepohonan mulai rendah sampai kita harus menyusur punggungan, jalannya berupa tanah mendatar dan di sisi kanan terdapat jurang.

Kurang lebih 10 menit kita akan sampai di Sendang Drajat, sebuah sumber air yang dianggap keramat oleh para peziarah. Di daerah sini biasanya juga digunakan untuk bertapa oleh orang-orang yang percaya bahwa akan mendapat "ilmu". Disini terdapat gua selebar 2 meter yang dapat kita pakai untuk bermalam.

Didepan gua terdapat lubang sekitar satu meter yang kadangkala dapat ditemukan air. Jika tidak mau menginap di Sendang Drajat, kita dapat berjalan terus ke Argo Dalem, dengan melewati punggungan bukit sekitar 30 menit, kita akan menemukan pertigaan yang kekiri langsung menuju puncak Argo Dumilah ( 3.265 m dpl) sedang ke kanan menuju ke Argo Dalem (3.148m dpl). Dari pertigaan ini, untuk menuju puncak Argo Dumilah hanya membutuhkan waktu 10 menit.

Alun-alun Argo Dalem merupakan hamparan padang terbuka bervegetasi perdu, memungkinkan kita untuk melihat kearah puncak maupun kelembah di bawahnya. Ada pondok utama yang biasanya menjadi tujuan peziarah yang datang, lengkap dengan barang-barang persembahannya Puncak Gunung Lawu berupa dataran yang berbukit-bukit dan terdapat titik trianggulasi. Dari arah puncak kita dapat menikmati pemandangan yang sangat menawan. Selain Matahari terbit, bila kita memandang ke arah barat, akan tampak puncak Gunung Merapi dan Merbabu, dan arah timur akan terlihat puncak Gunung Kelud, Butak dan Wilis.

Gerbang Jawa Tengah: Desa Cemoro Kandang

Jalur yang dimulai dari Desa Cemoro Kandang ini, panjangnya sekitar 12 km, juga paling sering digunakan untuk pendakian, karena tidak terlalu menanjak dan pemandangannya sangat indah. Diseberang gerbang pendakian terdapat warung-warung, juga bisa untuk menambah logistik, air juga harus dipersiapkan disini untuk perjalanan naik sampai turun lagi.

Kita mulai perjalanan melalui hutan akasia dan pinus dengan kondisi jalan berbatu kurang lebih 1,5 jam, kita sampai pada PosI Taman Sari bawah. Kemudian kita melewati jalan tanah dari hutan cemara dan pinus selama sekitar 30 menit akan menemui Pos II Taman Sari Atas. Dari sini kita masih melewati hutan dan menyisir bukit, setelah perjalanan selama 2,5 jam kemudian kita sampai di pos III Penggik (2.760 m dpl).

Dari pos penggik ini kita menuju ke Pos IV Cokrosuryo dengan melewati hutan, kemudian menyisir bukit, disebelah kiri kita adalah jurang, waktu yang dibutuhkan sekitar 1,5 jam. Jika tidak ingin menginap di Cokrosuryo kita bisa berjalan terus ke Argo Dalem dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. Dalam perjalanan ke Argo Dalem kita akan menemui sebuah pos yang rusak di pertigaan yang kekanan ke Argo Dumilah dan yang lurus menuju Argo Dalem. 

Sumber : http://adventureandbike.blogspot.com/2012/10/tips-mendaki-gunung-lawu.html

7/23/2013

Tips Wisata Pendakian Gunung Semeru

Untuk menuju Gunung yang tertinggi di Pulau Jawa yaitu G. Semeru ( 3.676 m), bisa ditempuh melalui dua akses Senduro Lumajang dan Nagadas Kidul kabupaten Malang ( Lihat Tips ke Bromo ). Yang jelas kedua akses ini menuju ke satu titik yaitu Desa Ranu Pane Kecamatan Senduro kabupaten Lumajang.
kanvas1.jpg Jenis angkutan yang ada jenisnya seperti ini.

Dari Desa Ranupane (2.100 m) inilah desa terakhir dan tempat pemeriksaan serta pos untuk melapor bagi para pendaki untuk naik, dan juga terdapat pondok pendaki untuk bermalam dan beristirahat. Desa Ranu Pane merupakan perkampungan kecil yang juga merupakan bagian dari Desa Suku Tengger, pekerjaan mereka pada umumnya bertani sayur-sayuran. Selain terdapat Ranu (danau) Pane, disebelahnya tendapat ranu lagi yang namanya Ranu Regulo.

Perjalanan ke Puncak G. Semeru dimulai dan desa Ranupane menuju Ranu Kumbolo pagi harinya pukul 7.00 melalui jalan setapak, jaraknya 13 Km., tidak terlalu terjal dengan memakan waktu sekitan 3-4 jam perjalanan. Di Ranu Kumbolo ada Pondok Pendaki untuk istinahat dan memasak. Daerah ini airnya melimpah dan berada pada ketinggian 2.400 m dari permukaan laut. Ranu Kumbolo memiliki pemandangan yang sangat indah terlebih pada pagi hari bila kita dapat melihat matahani terbit dari celah-celah bukit.

Dari Ranu Kumbolo perjalanan dilanjutkan menuju Kalimati ( 2.700 m) melalui hutan cemara dimana kadang kita jumpai burung dan kijang. Penjalanan ini ditempuh 2 - 3 jam / 10 Km. Disini kita dapat mendirikan tenda, dan apabila kita membutuhkan air dapat menuju Sumbermani, kearah barat menelusuni pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh perjalanan 1 jam pulang pergi. Tetapi dianjurkan kehutuhan air telah dipersiapkan di Ranu Kumbolo.( Sebenarnya kita dapat juga berkemah di Arcopodo 1 jam perjalanan dari Kalimati ke arah puncak G. Semeiru. tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering tenjadi tanah longsor di kawasan tersebut ).

Dari Kalimati biasanya para pendaki memulai pendakian menuju puncak pagi-pagi sekali, yaitu sekitar pukul 2 - 3 pagi dengan melalui hutan cemara 1 jam dan bukit pasir selama 2 - 3 jam untuk sampai di puncaknya, dengan keadaan jalan yang terjal menanjak.

Puncak Semeru yang biasa didaki adalah Puncak “Mahameru”. Dari puncak ini akan terlihat kawah yang disebut “Jonggring Saloko” dan yang uniknya setiap 10-15 menit sekali menyemburkan batuan vulkanis dengan didahului asap yang membumbung tinggi. Suhu di puncak Mahameru dingin sekali yaitu 0-4 C yang kadang-kadang berkabut tebal disertai badai angin. Pada saat badai dianjurkan untuk menunda pendakian ke puncak.

Panorama dari Puncak Mahameru tak akan pernah terlupakan indahnya, dimana terlihat puncak-puncak gunung di Jawa Timur, pesisir dan pantai, serta matahani terbit di ufuk timur.

Mendaki G. Semeru sebaiknva dimusim kemarau yaitu pada bulan-bulan Juni, Juli, Agustus dan September. Pendaki juga dianjurkan untuk tidak mendaki pada musim hujan di bulan Januani dan Februari, dimana sering terjadi badai dan tanah longsor.

Dari puncak turun kembali ke kemah (Kalimati) dibutuhkan waktu 1 jam, dan 3 jam untuk sampai di Ranu Kumbolo dan diperlukan 3 jam lagi untuk mencapai Ranu Pane. Bila sampai di Ranu Pane menjelang sore, kalau ada mobil kita bisa terus turun ke Gubug Klakah atau ke Tumpang ( akses dari Malang ) atau kita bisa kembali ke Senduro Akses Lumajang, Kalalu kita sudah ke sorean bisa bermalam di Ranu Pane dan besok paginya kita dapat turun kembali ke Tumpang Malang atau Senduro Lumajang.

Selamat Mendaki

Sumber : http://d16do.blogdetik.com/tips-wisata-gunung-semeru/
 
Copyright © 2014 Toko Outdoor Wilboz Adventure Kediri. Designed by OddThemes - Published By Blogger Templates20